Rabu, 21 Januari 2026 - 17:15 WIB , Editor: ruben,
Jakarta | Tribunterkini- Pendkodau I kekuasaan mutlak tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak, karena dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya untuk mewujudkan apapun yang Dia kehendaki, dan begitu pula perjalanan Nabi Muhammad SAW memakan waktu semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha, di mana beliau menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Demikian apa yang dikatakan oleh Panglima Kodau I Marsda TNI Muzafar, S.Sos., M.M., dalam sambutannya pada acara peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad, S.AW, tahun 1447 H/2026 M, bertempat di Masjid Darussalam Makodau I Halim Perdanakusuma Jakarta, Rabu (21/1/26).
Kegiatan diawali dengan pembacaan Kalam Illahi oleh Prada Fahmi Manurung dan Saritilawah oleh Serma Indri.
Lebih lanjut Pangkodau I mengajak, agar seluruh anggota muslim dan keluarga besar Kodau I untuk senantiasa menegakkan dan tidak meninggalkan shalat lima waktu, sebagai pondasi utama dalam membentuk keimanan dan ketakwaan.
"Peringatan Isra Mi”raj tahun ini dengan mengangkat tema: “Dengan Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah SAW, Membentuk Karakter Prajurit yang Prima Guna Menuju Indonesia Maju”, jelas Panglima.
Panglima kembali menjelaskan bahwa, tentunya tema tersebut sangat relevan dengan tugas dan tanggung jawab kita sebagai prajurit TNI Angkatan Udara, karena Isra Mi’raj bukan hanya sekadar peristiwa sejarah keagamaan, tetapi bermakna dan mengajarkan dalam pembentukan karakter yang berakhlak mulia, sebagai momentum pembentukan dan memperbaiki kualitas tugas yang Prima menuju Indonesia maju.
Selanjutnya Ustadz KH. Dr. Mulyadi Efendi, M.A. yang sehari-hari menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Fattimiyyah dalam tausyiahnya menjelaskan, bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan momentum penting dalam membentuk karakter manusia yang prima, baik secara spiritual maupun moral.
Lebih lanjut Al-Ustadz menjelaskan, perjalanan Isra Mi’raj terjadi setelah tahun kesedihan (Aamul Huzn), yaitu saat Nabi Muhammad SAW ditinggal wafat oleh dua orang yang sangat beliau cintai, yakni pamannya Abu Thalib dan istri tercinta Siti Khadijah, Peristiwa ini menunjukan sisi kemanusiaan, Rasulullah SAW yang juga merasakan kesedihan, karena beliau adalah manusia biasa yang diberi amanah besar oleh Allah SWT.
"Ketika seseorang memegang teguh kebenaran, meskipun mendapatkan tekanan agar meninggalkan dakwah, Rasulullah SAW tetap istiqamah. Dakwah Nabi Muhammad SAW menjadi ujian mental dan keimanan yang berat, namun beliau tetap teguh sehingga menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi seluruh umat", ujar Al-Ustadz.
Kemudian Al-Ustadz menjelaskan, berdasarkan Tafsir Al-Munir, beserta artinya, mengenai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha yang ditempuh hanya sekitar empat jam dengan kendaraan yang disebut Buraq, padahal secara logika manusia perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 40 hari 40 malam. Hal ini menjadi bukti nyata kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
"Peringatan Isra Mi’raj ini bertujuan untuk meneguhkan iman dan takwa serta sebagai tanda kebesaran Allah SWT melalui dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana termaktub dalam Babul Isra wal Mi’raj.
Kegiatan turut dihadiri oleh Pangkodau I Marsda TNI Muzafar S.Sos., M.M, Kas Kodau I, Ir Kapoksahli Kodau I, Pjs. Ketua PIA Ardhya Garini Daerah I Kodau I beserta Pengurus, Para Pejabat Utama Makodau I, Para Perwira, Bintara, Tamtama dan Pegawai Negeri Sipil Makodau I yang beragama Islam di lingkungan Kodau I. **
(Jakarta/ruben)